Elsari's mini blog....

Di link ini kamu bisa mendapatkan kata-kata mutiara yang kamu inginkan…mulai dari motivational, love and success…

check this out….

Rekomendasi Film…

Judul Film : The Ramen Girl

Pemain : Brittany Murphi…

Sinopsis:

Seorang gadis datang ke tokyo untuk menemui kekasihnya, namun setelah menghabiskan 1 malam ternyata kekasihnya meninggalkan dia pergi hanya untuk bekerja dan tidak kembali lagi…Gadis tersebut mencoba bertahan di Tokyo dengan cara mengenal “ramen”…

happy ending deh ceritanya dan dia akhirnya menemukan dambaan hatinya yang lebih setia….

my air assigment….

FENOMENA PERUBAHAN IKLIM DAN PEMANASAN GLOBAL

Akhir-akhir ini masalah lingkungan hidup selalu menjadi isu utama dan sangat serius karena menyangkut keselamatan manusia dan makhluk hidup serta lingkungan sekitarnya yang berada di bumi. Salah satu permasalahan lingkungan hidup tersebut adalah fenomena pemanasan global atau global warming. Pemanasan Global yang disebabkan oleh perubahan iklim tersebut mempunyai efek yang terus terjadi dan berskala besar. Akibat dari Pemanasan Global tersebut antara lain meliputi kekeringan yang berkepanjangan, kelangkaan air, degradasi tanah, kenaikan permukaan air laut, serta badai, dan banjir yang akan mengancam sejumlah kota dan kawasan industri di dunia.

Fenomena perubahan iklim bukan merupakan hal yang baru karena pada umumnya merupakan fenomena alam yang natural namun, dengan semakin pesatnya perkembangan zaman yang ditandai dengan bertambahnya populasi manusia, berdirinya pabrik-pabrik besar yang pada umumnya menyebabkan pencemaran khususnya pencemaran udara. Dengan demikian mengganggu sistem iklim alam yang natural itu karena aktifitas manusia tersebut akan melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer sehingga merubah pola iklim dunia. Hal tersebut mendapatkan perhatian besar karena mempunyai pengaruh pada sistem hidrologi di bumi, yang pada gilirannya berdampak pada struktur dan fungsi ekosistem alami dan kehidupan manusia.

Dampak yang mudah terlihat adalah frekuensi dan skala banjir serta musim kering yang panjang, yang terjadi di banyak bagian dunia.  Sebagai contoh dampak pemanasan global yang terjadi di Indonesia adalah terjadinya pergeseran iklim dari yang seharusnya Juni 2006 sudah musim kemarau, Kalimantan dan Sumatra masih mengalami banjir besar dan bulan September yang seharusnya sudah dimulai musim hujan bergeser mulai November (Prasetyowati, 2008). Dampak lain dari global warming di dunia pada umumnya adalah mencairnya es di daerah kutub sehingga akan mempengaruhi kenaikan muka air laut, selain itu juga dalam jangka waktu yang lama akan dapat menenggelamkan daratan-daratan (pulau-pulau) kecil yang ada dibelahan bumi serta dampak-dampak lainnya yang mengganggu kesehatan makhluk hidup. Oleh karena itu, maka perlu suatu cara untuk mengurangi dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim tersebut, sehingga keseimbangan alam menjadi normal kembali.

A. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Menurut WWF-Indonesia (2007), pemanasan global (global warming) adalah istilah yang menunjukan adanya kenaikan rata-rata suhu bumi yang tidak wajar akibat aktifitas manusia yang melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer sehingga merubah pola iklim dunia. Perubahan tersebut dikenal dengan perubahan iklim (climate change). Bumi menjadi hangat karena dipanasi oleh matahari melalui gelombang cahaya, namun cahaya yang masuk tersebut tidak begitu saja diterima oleh bumi. Cahaya matahari tersebut harus melalui lapisan atmosfer yang menyelubungi dan melindungi bumi. Cahaya yang masuk diserap oleh kehidupan di bumi dan sisanya dipantulkan kembali melalui radiasi. Atmosfer terdiri dari campuran dari berbagai gas. Beberapa jenis gas mempunyai kemampuan menahan panas matahari yang masuk dan mencegahnya ke angkasa. Hal tersebut yang membuat bumi menjadi tetap hangat. Fungsinya mirip dengan panel kaca pada rumah kaca, sehingga gas-gas tersebut disebut dengan gas rumah kaca. Namun seiring meningkatnya gas rumah kaca maka akan dapat menyebabkan suhu bumi naik terlalu banyak. Meningkatnya gas rumah kaca tersebut pada umumnya disebabkan oleh polusi yang disebabkan oleh manusia seperti aktifitas transfortasi, penggunaan bahan bakar fosil, sampah, penebangan hutan. Jenis-jenis gas rumah kaca antara lain: CO2, CH4, NOx, SOx dan CFC.

Pemanasan global merupakan akibat dari meningkatnya kadar gas rumah kaca, sehingga suhu bumi naik. Pemanasan global adalah proses perubahan keadaan yang berjalan sangat lambat. Dampak utama dari pemanasan global adalah perubahan iklim global yang akan mengakibatkan antara lain peningkatan permukaan air laut, penurunan hasil panen pertanian dan perikanan, perubahan keanekarangam hayati. Meningkatnya gas rumah kaca tersebut pada umumnya disebabkan oleh polusi yang disebabkan oleh manusia seperti aktifitas transfortasi, penggunaan bahan bakar fosil, sampah, penebangan hutan.

Gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer akan memblokir radiasi inframerah, mencegah larinya energi dari permukaan bumi ke angkasa. Radiasi inframerah tidak dapat secara langsung melalui udara seperti cahaya yang terlihat, melainkan sebagian besar energi yang datang dialirkan ke angkasa melalui arus udara, yaitu lari ke angkasa melalui ketinggian di atas lapisan selimut gas rumah kaca. Gas rumah kaca utama adalah uap air, CO2, metana, nitrogen oksida, halokarbon dan gas industri. Kecuali gas industri, seluruh gas lainnya terjadi secara alami. Keseluruhan GRK akan membentuk kurang dari 1 % lapisan atmosfer. Jumlah ini cukup untuk menghasilkan efek rumah kaca alami yang menyebabkan planet bumi tetap 30oC lebih hangat dibandingkan tanpa gas rumah kaca, yang memungkinkan untuk berlangsungnya kehidupan seperti yang kita kenal selama ini (Prasetyowati, 2008).

Menurut Laporan IPCC (2007) dalam Dokumen Suplemen Status Lingkungan Hidup Indonesia (2007) menyatakan bahwa 11-12 tahun terakhir (1995-2006) merupakan periode waktu yang termasuk diantara ke-12 tahun-tahun dengan temperatur permukaan permukaan bumi terhangat sejak tahun 1850. Adapun data perubahan suhu permukaan bumi periode 1970-2004 disajikan pada gambar 1. Berkaitan hal tersebut IPCC (2007) juga melaporkan bahwa skala global peningkatan terbesar dalam emisi gas rumah kaca antara tahun 1970 dan 2004 (gambar 2).

B. Dampak Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

1. Dampak Kenaikan Suhu Udara

Menurut Umar (2008), pengaruh kenaikan suhu udara rata-rata secara global sangat berpengaruh terhadap terjadinya kekeringan. Kekeringan selain berdampak terhadap lahan pertanian dan vegetasi juga menyebabkan mudahnya terjadi kebakaran hutan. Kekeringan juga telah mengubah habitat lingkungan. Perubahan habitat ini berdampak serius terhadap komunitas binatang liar yang hidup pada habitat asal.  Selain itu akan timbul masalah kerawanan pangan, air dan sumber kehidupan di suatu daerah yang akan memberikan tekanan terhadap penduduknya. Salah satu solusi adalah berpindah tempat, namun aktivitas ini dapat menimbulkan konflik kriminal atau berubah menjadi ancaman apabila dilaksanakan lintas negara. Adanya pengaruh signifikan dari perubahan suhu rata-rata akibat pemanasan global terhadap sektor-sektor yang berkaitan dengan harkat hidup manusia akan berdampak terhadap stabilitas keamanan dan pertahanan suatu negara.

Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan lebih tinggi, tetapi tanah juga lebih cepat kering. Kekeringan tanah tersebut akan merusak tanaman, bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Dampak perubahan iklim sudah terjadi, sekarang dan akan makin menjadi parah di masa yang akan datang. Mulai dari kebakaran hutan, pemutihan karang, gagal panen, dan punahnya beberapa spesies (Prasetyowati, 2008).

2. Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut

Kenaikan permukaan air laut dapat menyebabkan semakin meluasnya daerah yang terkena banjir. Hal tersebut selain disebabkan jumlah volume air yang tercurah melebihi daya serap tanah dan kecepatan pengaliran serta penguapan juga disebabkan oleh topografi daerah yang bersangkutan. Muara sungai-sungai yang permukaannya sejajar dengan permukan air laut, ketika air laut naik arus aliran air berbalik ke arah hulu, hal ini dapat mempertinggi penetrasi air laut ke arah darat, akibatnya air tanah/sumur di daerah pantai menjadi payau. Tenggelamnya pulau-pulau kecil dengan ketinggian hampir sama dengan rata-rata tinggi permukaan air laut. Hilangnya pulau-pulau kecil berdampak terhadap berbagai hal yaitu sempitnya habitat fauna, flora dan manusia, berubahnya garis batas perbatasan antar dua atau lebih negara yang berbatasan, atau hilangnya base points yang akan menggeser titik pangkal acuan untuk menentukan laut territorial negara pantai dan negara kepulauan (Umar, 2008).

Hal yang sama dijelaskan oleh Prasetyowati (2008) menyatakan bahwa International Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi jika tidak ada upaya yang dilakukan secara global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka pada tahun 2100 suhu bumi akan meningkat 1,4-5,8oCelcius (2,5-10,4oFahrenheit). Kenaikan temperatur tersebut akan mencairkan es di kutub dan menghangatkan lautan. Akibatnya, volume lautan meningkat dan permukaannya naik sekitar 9-100 cm (4-40 inci). Banjir akan timbul di daerah pantai dan mungkin menenggelamkan pulau-pulau, dengan demikian sebagian besar ekosistem tidak mampu beradaptasi jika terjadi kenaikan suhu bumi secara global lebih dari 2oC dari kondisi yang biasa dialami, maka akan terjadi kepunahan banyak spesies.

Naiknya suhu udara di bumi, berdampak pada meningkatnya suhu air, dan secara tidak langsung menambah volume air di samudera. Implikasinya adalah semakin tinggi paras laut (sea level). Dalam 10 tahun terakhir paras laut meningkat setinggi 0,1-0,3 m, sedangkan lewat model prediksi diperkirakan ada perubahan paras laut antara 0,3-0,5m, dan kemungkinan menutupi area seluas 1 juta km2. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka hutan mangrove, estuari dan wetlands yang terdapat di pesisir akan semakin berkurang luasnya, sehingga tingkat produktifitas perairan juga semakin menurun, dan akan sangat mempengaruhi kehidupan biota laut yang berasosiasi dengan ekosistem pesisir. Kenaikan paras laut mempengaruhi formasi North Atlantic deep water (NADW) yang akan sangat berpengaruh langsung pada sirkulasi global air laut. Kondisi tersebut tentunya akan mempengaruhi migrasi ikan target (bernilai ekonomis). Diperkirakan beberapa lokasi di daerah temperate akan menjadi lokasi ruaya tetap dari ikan-ikan yang biasanya hidup di wilayah tropis (Syahailatua, 2007).

3. Dampak Terhadap Kesehatan dan Bencana Alam

Adanya perubahan suhu yang fluktuatif akan dapat berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit gangguan pernafasan, penyakit infeksi oleh hewan-hewan yang hidupnya di daerah panas (Buchdahl et al, 2002). Pemanasan global juga dapat memicu timbulnya bencana-bencana alam seperti banjir, badai. Sebagai contoh yang terjadi pada negara Indonesia yaitu banjir yang disebabkan karena timbunan penumpukan sampah-sampah yang terletak dibantaran-bantaran sungai yang ada. Memicu terjadi peristiwa El-nino dan pemutihan karang (Bleaching).

C. Usaha-Usaha yang Dilakukan untuk Mengurangi dan Mencegah Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi efek dari pemanasan global ini adalah dengan melakukan konservasi energi. Misalnya penggunaan energi listrik. Konsumsi listrik untuk penerangan dapat dikurangi dengan drastis melalui penggunaan lampu yang lebih efisien. Sebuah lampu neon kompak 18 watt yang dipasang di lubang lampu biasa dapat menghasilkan cahaya setara dengan lampu biasa 75 watt. Selama masa pakai sekitar 10.000 jam, lampu ini dapat mengurangi emisi lebih dari 0,5 ton karbondioksida (> 500 kg karbon dioksida). Tindakan lain yang dapat membantu dalam mengurangi ancaman global warming adalah dengan penggunaan peraturan perpajakan dan bea masuk untuk mencegah masuknya mobil yang boros, dapat membantu mengurangi emisi karbondioksida sekaligus membantu negara-negara berkembang mengurangi beban impor bahan bakar minyak. Eliminiasi CFC, mengurangi emisi CH4 dan NOx, menggunakan bahan bahar biomassa, penanaman hutan kembali, pajak karbon, dan penggunaan energi terbaharukan (Suprayitno, 1998).

Secara global (intenasional) telah dibentuk suatu kesepakatan internasional yang dirumuskan di Rio De Janeiro, Brazil tahun 1992 yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer pada taraf yang tidak membahayakan kehidupan organisme dan yang memungkinkan terjadinya adaptasi ekosistem sehingga ketersediaan pangan dan pembangunan berkelanjutan dapat terjamin. Perumusan Protokol Kyoto pada tahun 1997, bagi negara yang menghasilkan GRK dalam jumlah yang besar (negara-negara Annex-I) diwajibkan untuk menurukan emisi GRK dengan rata-rata sebesar 5,2% dari total emisi dunia (SLHI, 2007). Adapun cara lainnya untuk mencegah dan mengurangi pemanasan global adalah 3R yaitu reduce (pengurangan bahan-bahan seperti plastik, stereofom), reuse (menggunakan kembali bahan-bahan yang masih dapat dipakai misalnya penggunakan plastik untuk setiap kali belanja, botol-botol dan kaleng bekas) dan recyle (mendaurulang bahan-bahan seperti kertas). Adanya timbunan sampah dapat dibuat pupuk kompos dengan metode komposting, hindari merokok dan menanam pohon-pohon di pinggiran jalan-jalan.

Daftar Rujukan:

Buchdahl, Joe., Rebecca Twigg and Laura Cresswell. 2002. Fact Sheet Series For Key Stages 2 and 3. Department for Environment, Food and Rural Affairs.  <www.ace.mmu.ac.uk>. Diakses Tanggal 13 Januari 2010.

Prasetyowati, Arie. 2008. Fenomena Pemanasan Global. Asia Pacific Forest Genetic Resources Programme (APFORGEN) Newsletter. Edisi 1 Tahun 2008.

Suplemen Status Lingkungan Hidup Indonesia. 2007. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Konteks dan Implikasinya Bagi Indonesia. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. <www.menlh.go.id>. Diakses Tanggal 13 Januari 2010.

Suprayitno. 1998. Atmosfer dan Pemanasan Global. Bapedal Direktorat Pengembangan Kelembagaan. Indah Offset. Malang.

Syahailatua, Augy. 2007. Perubahan Iklim Terhadap Kelautan. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta.

Umar., Mayor., Dedet dan Suharlina. 2008. Pengaruh Efek Pemanasan Global Terhadap Kondisi Pertahanan dan Keamanan Indonesia. Tim Puslitbang Indhan Balitbang Dephan. Jakarta. Buletin.

WWF-Indonesia. 2007. Pemanasan Global, Perubahan Iklim: Komik. <www.wwf.co.id>. Diakses Tanggal 20 November 2009.

This picture all about my master degree in MST UGM…

i’m happy with this class because all the people friendly…but i don’t know what the happen if we begin doing the thesis….

D Masiv ft Kevin Aprilio - Rindu Setengah Mati - LaguBagus.com
[Flash 9 is required to listen to audio.]
1 play

My soundtrack on the month….

Begini lah kondisi sungai CODE, yogyakarta saat ini&#8230;.
Sungguh sangat disayangkan&#8230;
warna air yang keruh akibat air hasil buangan dari aktifitas manusia di sekitar sungai&#8230;
menyebabkan pemandangan yang tidak menyenangkan,&#8230;
kalo tidak dimulai dari sekarang kapan lagi&#8230;
ayooo kita selamatkan sungai kita&#8230;.

Begini lah kondisi sungai CODE, yogyakarta saat ini….

Sungguh sangat disayangkan…

warna air yang keruh akibat air hasil buangan dari aktifitas manusia di sekitar sungai…

menyebabkan pemandangan yang tidak menyenangkan,…

kalo tidak dimulai dari sekarang kapan lagi…

ayooo kita selamatkan sungai kita….

A little knowlegde about Artificial Reef….

Melestarikan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia dengan Cara “Artificial Reef”

Elsari Tanjung Putri., S.Pi

(Mahasiswa Magister Sistem Teknik_UGM)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh lautan. Laut menyimpan kekayaan alam yang tak ternilai harganya dengan keanekaragaman biota laut yang sangat melimpah. Salah satunya adalah ekosistem terumbu karang yang merupakan bagian dari sistem ekosistem perairan laut. Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem yang sangat kompleks dan memiliki produktivitas primer yang tinggi sehingga pada umumnya terumbu karang dijadikan sebagai “rumah” bagi ikan-ikan laut. Ikan dan makhluk laut lainnya, menjadikan terumbu karang sebagai tempat berlindung dari serangan musuh, sumber makanan, tempat memijah ikan dan tempat memelihara (Spawning Ground) telur-telur mereka. Terumbu karang juga dapat berfungsi sebagai pelindung ekosistem pantai, menahan abrasi dan sebagai back reef dari gelombang yang besar. Selain itu, terumbu karang dapat dijadikan sebagai objek wisata bahari yang dapat meningkatkan pendapatan negara.

Tidak banyak wilayah Indonesia yang memiliki kondisi terumbu karang yang baik seperti sedia kala. Hanya beberapa dari wilayah Indonesia yang memiliki ekosistem terumbu karang yang baik seperti di Raja Ampat dan Bunaken. Berdasarkan data Puslit Oseanografi (LIPI), kondisi terumbu karang di Indonesia di 1008 lokasi tahun 2009 menyatakan hanya 5,56% wilayah Indonesia memiliki kondisi terumbu karang yang sangat baik; 25,89% baik; 37,10% cukup dan sebesar 31,45% kurang. Data tersebut sewaktu-waktu akan berubah seiring dengan meningkatnya aktivitas pembangunan di wilayah pesisir dewasa ini. Dari data tersebut menunjukkan bahwa terumbu karang dalam kondisi yang kurang cukup besar. Hal tersebut membuktikan bahwa telah terjadi kerusakan-kerusakan pada ekosistem tersebut.

Kerusakan ekosistem tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia seperti kegiatan penambangan, pengeboran minyak lepas pantai, penangkapan ikan dengan bahan peledak, tumpahan minyak akibat kecelakaan kapal, pengambilan karang untuk dijadikan hiasan dan kerajinan. Sebagai contoh, kerusakan terumbu karang akibat limbah tailing (kegiatan penambangan) yang terjadi perairan Teluk Buyat, Sulawesi Utara. Contoh lainnya yaitu di Kepulauan Seribu dan Kepulauan Riau seperti Pulau Natuna, Pulau Bengkalis dan Pulau Tengah dimana rusaknya terumbu karang dari kedua lokasi tersebut cenderung disebabkan karena kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Di Kepulauan Karimun Jawa terumbu karang rusak akibat dari pengambilan karang oleh masyarakat setempat untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium dan lain sebagainya. Perlu diingat, fenomena global warming juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang karena adanya peningkatan suhu bumi. Terumbu karang yang ada di perairan akan berubah warna yang awalnya berwarna-warni akan menjadi keputihan (bleaching) dan pada akhirnya menjadi rusak.

Rusaknya terumbu karang tersebut berarti akan menghilangkan habitat dari ikan dan makhluk laut lainnya. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?. Karena dalam ekosistem terumbu karang terjadi simbiosis antara karang dan zooxanthella, zooxanthella dengan bantuan cahaya akan melakukan fotosintesis dan menghasilkan endapan kapur, kalsium karbonat yang membentuk karang menjadi kuat dari hantaman gelombang. Zooxanthella tersebut adalah organisme yang melekat di karang, pemberi warna pada karang dan sebagai sumber makanan bagi ikan dan makhluk laut lainnya. Ketika karang hancur, maka zooxanthella tidak dapat melekat dan kemudian lama-kelamaan akan hilang. Hilangnya zooxanthella tersebut akan dapat menyebabkan terjadinya pemudaran warna karang, selain itu, dapat menurunkan produktivitas primer ekosistem terumbu karang tersebut karena tidak ada lagi sumber makanan bagi ikan, sehingga dapat menurunkan jenis ikan dan jenis karang serta tidak ada lagi penyangga ketika terjadi hempasan gelombang besar. Itu semua nantinya akan berdampak pada kehidupan manusia, karena akan terjadi penurunan hasil tangkapan ikan oleh nelayan, menurunkan objek wisata bahari yang sangat bermanfaatan untuk menambah income negara dan lain sebagainya.

Salah satu cara untuk melestarikan ekosistem terumbu karang tersebut adalah dengan membuat artificial reef. Artificial reef atau terumbu karang buatan adalah tindakan manipulasi lingkungan perairan dengan menempatkan benda-benda ke dalam lingkungan perairan. Tujuannya adalah memperbaiki habitat yang rusak sehingga tercipta kembali areal pemijahan dan perlindungan bagi ikan, telur ikan dan anakan ikan serta makhluk laut lainnya, meningkatkan daya dukung perairan dan produktivitas ikan sehingga keragaman hayati biota laut kembali meningkat serta ekosistem terumbu karang menjadi lestari.

Pembuatan terumbu karang buatan ini sangat mudah dan tidak memerlukan biaya yang banyak, karena pada umumnya benda-benda yang digunakan adalah benda-benda keras dan bekas seperti kapal bekas, mobil bekas, ban mobil bekas dan bahan-bahan beton lainnya tetapi pada bahan dasar beton akan sedikit memerlukan biaya tambahan. Benda-benda tersebut selanjutnya ditambahkan potongan karang dengan menggunakan teknik transplantasi kemudian dimasukkan kedalam perairan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadi simbiosis antara zooxanthella dan karang dimana zooxanthella akan melakukan fotosintesis menghasilkan zat kapur. Lama-kelamaan zat kapur tersebut akan mengeras dan terbentuklah karang yang baru dan selanjutnya akan terbentuk hamparan terumbu karang. Namun, untuk mendapatkan hamparan karang yang menyerupai kondisi alami membutuhkan waktu yang sangat lama karena pertumbuhan karang itu sendiri sangat lah lama. Zooxanthella yang melekat tersebut akan dimanfaatkan oleh ikan untuk dimakan dan secara ekologis akan mempengaruhi siklus hidup dari ikan tersebut.

Bentuk dan desain habitat buatan yang layak, haruslah berdasarkan hasil kajian ilmiah meliputi penggunaan material, luas area yang digunakan, ketepatan pemilihan lokasi dan lingkungan, teknik pemasangan, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Selain itu, diperlukan campur tangan stakeholders (instansi pemerintah yang terkait, masyarakat maupun swasta). Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan terwujudnya tujuan dibentuknya terumbu karang buatan sesuai dengan fungsinya dan alokasi pendanaan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program pembuatan terumbu karang buatan ini. Adanya kerjasama antara masing-masing stakeholders juga akan membantu dalam kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan tersebut pada masing-masing area yang menjalankan program artificial reef tersebut. Data dari Simposium Munas Terumbu Karang II menyebutkan bahwa keberhasilan terumbu karang buatan ini ditandai dengan tumbuhnya karang keras dan dapat berfungsi sebagai media pengumpul ikan. Hal tersebut terjadi di daerah beberapa negara di Indonesia seperti di daerah Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Karimunjawa (Jawa Tengah), Bali Utara dan Kepulauan Nusa Penida (Bali) serta Pulau Sembilan (Sinjai, Sulawesi Selatan).

Keberhasilan akan terumbu karang buatan ini tidak diragukan lagi, walapun membutuhkan waktu yang tidak singkat tetapi manfaat yang dihasilkan akan berjangka panjang. Namun yang paling penting adalah pentingnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan ekosistem terumbu karang, dengan tidak membuang sampah ke laut, tidak mengambil karang dan jenis-jenis ikan dengan menggunakan racun dan bom, serta tidak melakukan kegiatan eksploitasi laut yang tidak ramah lingkungan lainnya serta melakukan usaha-usaha untuk mengurangi efek global warming seperti menerapkan prinsip 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) mulai dari sekarang agar harmonisasi yang terjadi di dalam ekosistem terumbu karang tersebut tetap berjalan dengan baik.

AIR - BINTANG - mp3press.com
[Flash 9 is required to listen to audio.]
7 plays

Pernah denger lagu ini ngga?

Perjuangan demi mendapatkan juara&#8230;
Ini terjadi pada waktu pertandingan FISH CUP (kalo ngga salah 3 tahun yang lalu). FISH CUP adalah ajang bergengsi yang ditunggu-tunggu oleh seluruh fakultas di seluruh UGM ini, karena memperebutkan piala bergilir (Khususnya bidang sepak bola)&#8230;
Inget ngga, saat mereka berlatih keras dan mengatur strategi untuk merebut piala itu&#8230;
Salut buat mereka yang berlatih dengan membawa nama PERIKANAN, para PELATIH (mas lucky, 03) dan para SUPORTER PERIKANAN dari angkatan atas hingga angkatan bawah&#8230;.
_I Just Shared this moment for you all_

Perjuangan demi mendapatkan juara…

Ini terjadi pada waktu pertandingan FISH CUP (kalo ngga salah 3 tahun yang lalu). FISH CUP adalah ajang bergengsi yang ditunggu-tunggu oleh seluruh fakultas di seluruh UGM ini, karena memperebutkan piala bergilir (Khususnya bidang sepak bola)…

Inget ngga, saat mereka berlatih keras dan mengatur strategi untuk merebut piala itu…

Salut buat mereka yang berlatih dengan membawa nama PERIKANAN, para PELATIH (mas lucky, 03) dan para SUPORTER PERIKANAN dari angkatan atas hingga angkatan bawah….

_I Just Shared this moment for you all_

My first Blog….

Follow me ya…..